Duta dari Silat MaRuyung Kolat SMP Ma'arif NU 1 Cilongok
PURWOKERTO – Riuh rendah suara penonton dan gemuruh tabuhan penanda tanding memenuhi GOR SMK Mulia Bakti Purwokerto. Di tengah kepungan ratusan pesilat terbaik dari 36 Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah, ada sebuah kisah perjuangan yang sangat menyentuh hati. Kisah tentang kesendirian yang berujung kebanggaan, yang dibawa oleh Kolat SMP Ma'arif NU 1 Cilongok di bawah naungan Silat MaRuyung pada ajang Kejuaraan Daerah (Kejurda) X Pagar Nusa, 27–28 Juni 2026.
Jika kontingen lain datang dengan pasukan besar, Kolat SMP Ma'arif NU 1 Cilongok melangkah ke gelanggang provinsi dengan cara yang berbeda. Mereka hanya mengirimkan satu orang santri. Satu-satunya srikandi yang memikul beban, harapan, dan nama baik sekolah di pundak kecilnya.
Mengalir dari Sanad Luhur Watumas dan Jingkang
Keberanian tunggal ini tidak lahir dari ruang kosong. Di belakang pesilat tunggal ini, mengalir doa dan gemblengan spiritual yang sangat kuat. Silat MaRuyung yang diikutinya berpusat di Watumas di bawah asuhan mulia Kyai Nur Akhyadi. Di sisi teknis, mentalitas bertarungnya diawasi langsung oleh Majelis Pendekar Muh Cipto Waluyo - Jingkang.
Melalui tangan dingin duo pelatih, Nur Aziz dan Danto Sudantoko, satu santri ini ditempa dengan disiplin tinggi. Berbekal status mentereng sebagai Juara 1 Kejuaraan Kabupaten (Kejurkab) Banyumas, srikandi cilik ini melangkah tegap menjadi bagian resmi dari kontingen Pagar Nusa Kabupaten Banyumas.
Askana Nabila Izzati: Berjuang Sendiri di Kelas Tanding A Putri Pra Remaja
Nama pendekar tangguh itu adalah Askana Nabila Izzati. Turun di Kelas Tanding A Putri Pra Remaja, Askana harus berdiri sendiri di sudut gelanggang tanpa didampingi teman satu tim dari sekolahnya. Selama dua hari penuh ketegangan, tanggal 27 dan 28 Juni 2026, ia bertaruh keringat, air mata, dan fisik menghadapi kepungan pesilat-pesilat terbaik Jawa Tengah.
Menyaksikan perjuangannya sendirian di bawah lampu sorot gelanggang adalah momen yang mengharukan. Setiap pukulan, tendangan, dan bantingan yang ia lepaskan bukan lagi sekadar mengejar poin, melainkan pembuktian bahwa mental santri Cilongok tidak akan pernah gentar meski harus berjuang sebatang kara.
Juara 3 Jateng yang Sangat Mahal, Banyumas Tetap Digdaya
Langkah Askana akhirnya harus terhenti di babak semifinal. Target untuk membawa pulang medali emas memang belum maksimal tercapai di Kejurda kali ini. Namun, berhasil menembus ketatnya persaingan 36 kabupaten/kota dan mengamankan posisi sebagai Juara 3 (Medali Perunggu) Tingkat Jawa Tengah adalah prestasi yang sangat mahal dan luar biasa membanggakan!
Air mata lelah di akhir pertandingan langsung berubah menjadi rasa haru. Kerja keras Askana tidak sia-sia. Sumbangan poin berharga dari perjuangan tunggalnya ini turut mengantarkan Pagar Nusa Kabupaten Banyumas keluar sebagai Juara Umum / Pemenang Utama di akhir kejuaraan.
Askana Nabila Izzati telah membuktikan sebuah filosofi berharga: tidak butuh pasukan banyak untuk menciptakan perubahan, cukup satu jiwa yang dipenuhi keberanian dan keyakinan. Hari ini perunggu di dada, esok hari dunia akan melihatmu di podium tertinggi. Teruslah berproses dan tetap semangat, Srikandi Ma'arif NU 1 Cilongok! Lā gāliba illā billāh!

Mantap, Maju terus Pencak Silat Maruyung, semoga sukses selalu
BalasHapus