Fajar Baru di SMPN 4 Kedungbanteng: Mengubah Energi Jalanan Menjadi Prestasi Lewat Pengukuhan Sabuk Hijau Perdana MaRuyung



Silat MaRuyung kolat SMP Negeri 4 Keedungbanteng

KEDUNGBANTENG – Sebuah tonggak sejarah baru saja tertanam kuat di bumi SMP Negeri 4 Kedungbanteng. Melalui dinginnya malam dan beratnya tempaan fisik, sebanyak 18 siswa tangguh resmi dikukuhkan mengenakan Sabuk Hijau Ikatan Pencak Silat MaRuyung. Kegiatan sakral yang berlangsung pada 16–17 Mei 2026 ini menjadi momen yang sangat menyentuh hati sekaligus membakar semangat. Pasalnya, ini adalah kali pertama dalam sejarah sekolah, sebuah tradisi pendekar pesantren berhasil dihidupkan di tengah-tengah mereka.

Sentuhan Tangan Dingin Sang Guru dan Pendekar: Cipto Waluyo
Lahirnya kolat di SMPN 4 Kedungbanteng ini bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah buah dari dedikasi tanpa batas seorang tokoh yang memikul tanggung jawab ganda. Beliau adalah Cipto Waluyo, S.AP., S.Pd., yang bertindak langsung sebagai Guru Olahraga di sekolah tersebut sekaligus Majelis Pendekar MaRuyung - Jingkang.
Dengan ketulusan hati, beliau melatih sendiri anak-anak didiknya. Tantangan terbesar di lingkungan sekitar sekolah adalah maraknya kebiasaan anak-anak remaja yang suka berkelahi dan terlibat gesekan di jalanan. Di bawah bimbingan Cipto Waluyo, energi liar jalanan itu tidak diredam secara paksa, melainkan dirangkul, diarahkan, dan diubah menjadi energi positif melalui ekstrakurikuler silat. Tak heran, dalam waktu singkat, seni bela diri ini berkembang dengan sangat pesat.
Sanad Luhur Watumas dan Ujian Mental-Batin 24 Jam
Kekuatan MaRuyung tidak hanya bertumpu pada otot, melainkan pada ketajaman mata batin dan spiritual. Silat ini berakar kuat di Pusat Watumas di bawah asuhan mulia Kyai Nur Akhyadi.
Perjalanan 18 siswa—yang terdiri dari 15 putri dan 3 putra lintas kelas 7 dan 8—dimulai pada Sabtu, 16 Mei 2026 pukul 14.00 WIB. Usai registrasi, mereka tidak langsung diajak bertarung, melainkan duduk bersimpuh menjalani pendidikan batin, mental, dan penguatan agama Islam. Di bawah remang malam hingga kumandang azan Subuh, mereka ditempa untuk mengenali jati diri mereka sebagai santri dan ksatria yang rendah hati.
Memasuki hari Ahad, 17 Mei 2026, barulah ujian fisik sesungguhnya dimulai. Tubuh-tubuh muda yang kurang tidur itu dipacu menembus batas lelah lewat gemblengan gerakan dasar, jurus, senam lantai, hingga teknik kuncian khas MaRuyung yang mematikan namun penuh disiplin.
Tangis, Peluh, dan Sanad Kerohanian di Jalur Outbound
Momen paling menyentuh terjadi saat sesi outbound atau mencari jejak. Untuk mendapatkan sabuk hijau yang menjadi simbol tingkatan baru, para siswa harus berjalan menyusuri rute alami dan melewati 4 pos ujian krusial yang dijaga oleh para pelatih senior:
  • Pos 1 (Ujian Durasi Daya Tahan): Dijaga oleh Ikhrom, menguji sejauh mana fisik dan mental para siswa mampu bertahan di bawah tekanan lelah yang luar biasa.
  • Pos 2 (Jurus Dasar & Kuncian MaRuyung): Di bawah pengawasan ketat Ahmad Ifsohan, para siswa harus membuktikan kefasihan teknik yang telah diajarkan oleh Cipto Waluyo.
  • Pos 3 (Makna Logo & Agama Islam): Dipandu oleh Choerul Anam, di pos inilah spiritualitas mereka diketuk kembali, menyelaraskan arti lambang MaRuyung di dada dengan keyakinan tauhid di dalam jiwa.
  • Pos 4 (Tahlil Waliyullah & Pengambilan Sabuk): Di bawah bimbingan Furqon Ardana, para siswa melantunkan tahlil setinggi-tingginya untuk Waliyullah Syaikh Hamzah Kusuma. Di pos sakral inilah, dengan tangan bergetar menahan haru, sabuk hijau akhirnya resmi mereka dekap.
Momen di Pos 4 ini menjadi episentrum spiritual yang sangat menggetarkan. Para siswa diajak menyadari betapa agungnya sanad keilmuan yang mereka pelajari. Syaikh Hamzah Kusuma bukanlah nama sembarangan; beliau adalah guru spiritual dari ulama kharismatik Habib Hamid Sokaraja yang wafat di tanah suci Mekah. Lebih jauh lagi, Habib Hamid Sokaraja merupakan guru dari salah satu bapak bangsa dan Presiden Republik Indonesia ke-4, yaitu KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Menyerap berkah dari jajaran guru-guru bangsa inilah yang membuat air mata para siswa menetes haru saat sabuk hijau tersebut diserahkan ke pelukan mereka.
Puncak Kesakralan: Baiat dan Doa Bersama
Setelah perjuangan fisik dan batin yang menguras seluruh energi, seluruh rangkaian kegiatan mencapai puncaknya pada hari Ahad, 17 Mei 2026 tepat pukul 12.30 WIB. Di bawah atap sekolah yang kini terasa teduh, suasana berubah menjadi sangat sakral saat prosesi baiat dimulai.
Dipimpin langsung oleh Cipto Waluyo, para siswa mengucapkan sumpah setia untuk menjaga nama baik ulama, organisasi, serta menggunakan ilmu silat mereka hanya untuk membela kebenaran dan menolong sesama. Isak tangis haru pecah memenuhi ruangan saat doa penutup dilantunkan bersama. Doa yang dipanjatkan tidak hanya sebagai wujud syukur atas kelulusan mereka, tetapi juga permohonan agar sabuk hijau yang kini melingkar di pinggang senantiasa membawa keberkahan dan ketenteraman di dalam hati mereka.
Sinergi Saudara Seperguruan dari Jingkang
Keberhasilan acara perdana ini juga menjadi bukti indahnya persaudaraan di dalam MaRuyung. Kepanitiaan inti dijalankan dengan sangat rapi oleh para anggota senior yang sebelumnya telah lulus pengukuhan di Ponpes Al Muhajirin Jingkang. Dipimpin oleh 
  • Ulfatun Azizah sebagai Ketua, didampingi 
  • Zaliq Elang Sanjaya sebagai Sekretaris, dan 
  • Zahra Olivia Wardani sebagai Bendahara, 
mereka bahu-bahu memastikan adik-adik angkatan mereka di Kedungbanteng bisa merasakan prosesi yang bermakna.
Hasil dari pengukuhan ini sungguh maksimal. 18 anak yang dulunya mungkin meluapkan emosi dengan perkelahian sia-sia, hari ini pulang ke rumah masing-masing dengan sabuk hijau melingkar di pinggang, dada yang tegap, dan pandangan mata yang penuh penghormatan pada sesama.
Selamat atas pengukuhan perdana SMP Negeri 4 Kedungbanteng! Hari ini kalian menaklukkan rasa takut diri sendiri, esok hari kalian akan mengguncang gelanggang prestasi. Tetap semangat, kepakkan sayap MaRuyung lebih lebar! Lā gāliba illā billāh!

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Fajar Baru di SMPN 4 Kedungbanteng: Mengubah Energi Jalanan Menjadi Prestasi Lewat Pengukuhan Sabuk Hijau Perdana MaRuyung"

Posting Komentar